Mengapa
Perindo mendapat jatah di kabinet (Angela H Tanoesoedibjo sebagai Wamen
Parekraf), sedangkan partai lain yang sama-sama tidak lolos ET pemilu
seperti Hanura, PKPI dan PSI tidak mendapat jatah kursi di kabinet?
Saya
pernah menjawab sebelumnya soal apa prestasi Puan Maharani sehingga
terpilih sebagai Ketua DPR. Saya bilang kalau prestasinya adalah terlahir sebagai putri Megawati Soekarnoputri.
Sehingga
kalau ditanya kenapa Perindo memperoleh jatah kursi kabinet melalui
Angela, ya jawabannya jelas sekali. Karena dia adalah anak Hari Tanoesoedibjo. Tidak kurang, tidak lebih.
Politik itu pada akhirnya soal untung dan rugi. Sebelum
terjun ke dunia politik, Jokowi adalah seorang pengusaha mebel.
Pengusaha itu mikirnya juga untung dan rugi. Makanya Jokowi mudah cocok
dengan dunia politik.
Hari
Tanoesoedibjo itu merupakan salah satu konglomerat di Indonesia.
Uangnya banyak. Bukti nyata, dia bisa menghidupi Perindo. Bandingkan
keadaannya dengan PKPI nya Hendropriyono. Hidup segan mati tak mau.
Belum
lagi fakta bahwa Hari merupakan pemilik MNC Group. Bagi Jokowi yang
sangat menyadari pentingnya pencitraan, penguasaan atas media itu
penting. Makanya diusahakan ada kursi di kabinet untuk anak perempuannya
si Tanoe. Biar bapaknya senang. Biar merasa dianggap. Dengan begitu
bertambahlah sekutu politik Jokowi di pemerintahan.
Ini
sama kasusnya dengan Partai Solidaritas Indonesia. PSI memang tidak
berhasil memperoleh kursi di parlemen. Makanya sama Jokowi tidak dikasih
kursi menteri. Tapi Jokowi juga sadar bahwa PSI itu adalah partai baru.
Masih muda. Potensinya besar di masa depan.
Daripada
menggandoli Hanura dan PKPI yang partai lawas tapi cuma gitu-gitu saja
kan mendingan membina PSI dari sekarang. Makanya PSI dikasih kursi wakil
menteri juga.
Tujuannya
apa? Ini strategi Jokowi untuk menempelkan para sekutunya sedekat
mungkin. Terutama yang dianggap bisa punya suara besar di masa depan.
Dia tidak melihat keadaan sekarang tapi potensi ke depannya.
Selain itu, tindakan Jokowi ini bisa dilihat dari sudut pandang sebuah investasi. Jokowi
kan pengusaha aslinya. Namanya investasi pasti paham dia itu. Sebagai
presiden, masa jabatan Jokowi akan berakhir pada 2024. Sudah tidak bisa
ditambah lagi. Kecuali ada amandemen UU.
Nah,
berita yang lagi santer belakangan ini kan soal Gibran yang katanya mau
terjun ke dunia politik. Kalau Jokowi memang niat serius mengorbitkan
Gibran, ya dia jangan terlalu kaku dalam menjalin aliansi politik.
Kumpulkan sebanyak mungkin teman dan jaringan. Jadi kalau sudah waktunya
Jokowi pensiun, dia tinggal mewariskan jaringan politiknya kepada
Gibran.
Makanya
langkah-langkah politik Jokowi yang terkesan vulgar bagi-bagi kursi
sampai Gerindra juga dikasih, dapat dilihat sebagai bentuk investasi masa
depan Gibran dan masa pensiun Jokowi. Karena saya pribadi tidak yakin
kalau Jokowi rela menghilang begitu saja dari peredaran politik nasional
pasca pensiun.
Siapa
tahu Jokowi ingin mendirikan partai politik dia sendiri? Apalagi kalau
dia merasa pengaruh dinasti Soekarno di PDIP terlalu kuat. Mendingan
bikin partai sendiri. Tapi mendirikan partai sendiri perlu jaringan luas
dan uang yang banyak. Biar nasibnya ga kayak PKPI. Makanya Jokowi
investasi mulai sekarang.
Dengan
catatan, Jokowi dan partai pendukungnya yang mendominasi parlemen tidak
malah tergoda untuk mengamandemen UU, supaya Jokowi bisa menjabat lebih
dari dua periode.
Kalau itu terjadi, selamat datang kembali Neo Orde Baru
0 Komentar untuk "Mengapa Perindo Mendapat Jatah di Kabinet"